Wayang Orang Sriwedari dan Polemiknya
Solo – Gebyar wayang orang Sriwedari sudah tidak seperti dulu. Dikala tahun 1910 ketika wayang orang Sriwedari pertama kali tampil dihadapan publik, animo masyarakat sangat tinggi. Namun seiring dengan perkembangan jaman kondisi wayang orang Sriwedari semakin terpuruk.
Berdasarkan data yang diperoleh Timlo.net, pada tahun 1960 hingga tahun 1980 setidaknya dalam seminggu wayang orang Sriwedari selalu dikunjungi 2000 orang. Sayangnya dengan pergantian tahun jumlah penonton sudah tidak lagi seperti sedia kala. Sekarang ini dengan tiket yang cukup murah yakni seharga 3000 rupiah hingga 5000 rupiah tergantung dengan cerita yang dimainkan, hanya ada belasan orang yang mau mampir untuk menyaksikkan wayang orang tersebut.
Jika diruntut, banyak penyebab kenapa wayang orang ini sepi pengunjung. Seperti dilansir dari batavise.co.id, Tugimin seorang peneliti budaya mengatakan jumlah pengunjung GWO menurun drastis seiring dengan menjamurnya berbagai pertunjukan seni yang jauh lebih variatif dan menarik. “Anak muda sekarang jauh lebih memilih hiburan modern, seperti nongkrong di café, dan semacamnya dibandingkan menyaksikan pertunjukan wayang orang yang terkesan membosankan bagi mereka”, terangnya.
Walaupun sepi pengunjung, nasib para seniman masih bisa teratasi, pasalnya sebagian besar seniman wayang orang Sriwedari sudah diangkat menjadi pegawai negeri. Dari uang gaji yang mereka dapatkan, para seniman tersebut tetap bisa berkarya. Sulistiyanto BA, yang kerap menjadi sutradara mengatakan, sejauh ini para seniman tetap menghidupi wayang orang Sriwedari bukan karena tuntutan pekerjaan semata, namun juga ada roh yang menghidupi mereka, yakni kecintaan mereka akan budaya wayang orang yang sudah menjadi budaya luhur.
“Saat ini wayang orang Sriwedari memang masih tetap berkarya, namun apa yang mereka mainkan serasa tidak ada gregetnya, bukan karena mainnya kurang baik, melainkan penonton yang sedikit. Penonton itu sangat mempengaruhi mood para pemain. Tentu saja adanya penonton yang banyak sangat mempengaruhi para pemain, mereka akan terasa jauh lebih bersemangat”, terangnya kepada Timlo.net selepas pementasan Suryadharma Lahir di GWO. (7/6/2010).
Sangat disayangkan bila warisan budaya yang sudah berumur satu abad ini dibiarkan punah begitu saja. Menjadi sebuah kewajiban kita bersama untuk terus melestarikannya. Tepat hari ini 100 tahun wayang orang Sriwedari akan diperingati dengan sebuah pentas yang menampilkan berbagai artis dan para mantan pejabat. Walaupun pentas ini ditujukan untuk mengangkat citra dan mengembalikan wayang orang seperti sedia kala, namun jangan sampai menjadi sebuah gebyar semata. Harus ada sebuah tindakan yang merangkai pementasan tersebut sehingga wayang orang tidak akan berhenti.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Bisnis Perumahan di Solo Kian Ramai
- Piye Iki! Ikut Rekam E-KTP, Warga H...
- Sruti Respati dan Puteri Indonesia ...
- Kerabat Keraton Pertanyakan Hasil R...
- Ibu Muda Jual Sabu-sabu Ditangkap d...
- LUIS Minta Densus 88 Perbaiki Tekni...
- UPTPK Sragen Belum Punya Kendaraan ...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Museum Samanhudi Diresmikan
- 3% Pelaku Ekonomi Adalah Konglomera...
- Napak Budaya Samanhudi, Puluhan Gun...
- Amir Ambyah: Banyak Koperasi di Sra...
- Libur Panjang, Terminal Wonogiri Se...
- 19 Mei, AkBer Solo Rayakan Ultah Pe...
- Pendaftar SMP RSBI Solo Membludak
Berita Terpopuler
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Akhirnya, Raja Kembar Solo Berdamai
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- "Tukang Plat" Diberondong Tembakan
- Lha Ini, Akibat Merokok Sambil...
- Kecelakaan di Satelit Ngemplak, 1...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu


SMKN 2 Wonogiri Serius Rakit Truk M...
Purwantoro Masih Mengandalkan Indus...
Sendang Sinangka Saksi Bisu Perjuan...
Potret Wonogiri Terekam Dalam Pamer...
Pameran Produk Unggulan Wonogiri Di...
Kenakan Beskap, Bupati Wonogiri Lan...
Pangeran Sambernyowo Bagi Wonogiri ...