• Jumat, 18 Mei 2012

Reog Jaranan, Padukan Unsur Tari dan Atraksi

Rony Setio Aji - Timlo.net
Jumat, 9 Juli 2010 | 15:33 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Rony
Seni Reog Jaranan sedang melakukan atraksi

SoloSeni Reog Jaranan mungkin bukan hal baru bagi masyarakat Solo, masyarakat Solo lebih akrab menamainya dengan Jaran Dor. Kesenian ini dulunya sempat terpinggirkan, mengamen dari kampung ke kampung, bahkan tak jarang para seniman ini rela tak mendapat tanggapan sedikitpun.

Kesenian ini sebenarnya merupakan kesenian tradisional kuda lumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musiknya, serta atraksi pemain yang terkadang membuat miris penonton, tak ubahnya seperti debus.

Diawali dengan dua orang penari memakai kuda luping, kemudian muncul pentulan, atau penari dengan memakai topeng berupa rambut gimbal yang pada umumnya digunakan pada saat pertunjukan Reog.  Dahulu kesenian Jaran Dor ini dilakukan dengan ritual-ritual khusus.

Ada seorang pawang yang ikut mendampingi saat penari beraksi hingga selesai pertunjukan. Si pawang tak pernah lepas dengan cambuk, cambuk ini digunakan untuk memasukkanperewangan atau roh ke dalam diri penari, juga untuk memulihkan kesadaran si penari. Saat penari kemasukan roh atau kesurupan, si penari akan melakukan tarian dan atraksi di bawah kesadarannya, seperti memecahkan batok kelapa dengan kepalanya sendiri, memakan pecahan lampu bolam, memakan silet hingga bermain dengan api.

Sebenarnya tari Jaran Dor lebih mengarah pada kesenangan atau hobi, tidak seperti jaranan lain yang memang sengaja dirancang untuk pementasan dengan kemasan cukup rapi. Sehingga penampilan para penarinyapun  terkesan apa adanya dan gerak para penarinya pun tidak seperti jaranan lain. Tari ini lebih banyak dipengaruhi oleh pencak silat, karena kebanyakan para penari sering melakukan lompatan salto selayaknya pendekar pencak silat.

Kesenian ini sebenarnya mempunyai ciri khas tersendiri baik dengan tarian, atraksi maupun penampilannya. Jika di Banten ada Debus, di Solo Jawa Tengah pun ada Jaran Dor. Bukan tidak mungkin, jika ada upaya pembinaan, Kesenian inipun akan menambah beragamnya seni budaya yang ada di Jawa Tengah.

         

Berita Terkait

  • Tidak Ada Berita Terkait

Komentar

  1. danang

    saya tertarik dengan tulisan anda ini, kalau boleh tahu anda penelitian di daerah mana ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125