Berita Terkini
- RSUD Surakarta Akan Lengkapi Kawasan…
- Truk Non Sembako Ngeyel Akan Ditilang…
- Pemudik Wajib Waspadai Pembiusan…
- Kantor Pelayanan Pemkot Tetap…
- Jadwal Realisasi DAK Dikhawatirkan…
- Taman Disperindag Awal Dari Kawasan…
- Walikota Sidak Pembangunan Taman…
- Susun Kliping gaya Anak Kampung…
- Jelang Lebaran, SMKN 4 Kebanjiran…
- H-4 Lebaran Pasar Masih Sepi
Berita Terpopuler
- Walikota Turut Mencoba BST
- Capai Kecerdasan Maksimal, Tujuan…
- Tunjangan Provinsi Guru WB Segera…
- Melepas Penat di Villa Park Banjarsari…
- Alunan Merdu Bengawan Solo Versi…
- Gereja Katolik Kecam Aksi Pembakaran…
- Pembuktian Aksi Blindreading GMC…
- Gerbong Khusus Wanita di Prameks…
- Hujan Gerimis Kirab Tumpeng Sewu…
- DAOP VI Lakukan Pengecekan dan…
Latihan di Rumah Masing-Masing Sebelum Tampil
Solo - Sekelompok orkes keroncong dalam perhelatan Solo Festival Keroncong (SKF) 2010, tampak mengenakan sebuah seragam bertuliskan "Play Keroncong Music Save Indonesian Heritages". Orkes Keroncong tersebut bernama OK Cyber. Cukup menarik karena OK ini bukan berasal dari wilayah atau daerah tertentu melainkan dari dunia maya alias Internet.
Orkes Keroncong Cyber merupakan satu dari sekian orkes keroncong unik yang tampil dalam perhelatan Solo Keroncong Festival (SKF). Menurut Adi B. Wiratma selaku moderator komunitas OK Cyber, kelompok tersebut terbentuk lewat sebuah mailing list penikmat keroncong di Internet pada tahun 2005. "Awalnya kita sering berdiskusi, sharing, bertukar informasi, dan akhirnya bermuara pada sebuah even kopi darat yakni di Gebyar Keroncong TVRI. Awalnya kita hanya sekedar menonton, namun kemudian terbesit keinginan untuk membuat sebuah OK Keroncong", terang ditemui Timlo.net di Wisma Seni TBJT Surakarta, (24/7/2010).
Yang cukup menarik, OK Cyber ini memiliki personil yang tersebar di berbagai daerah. Untuk itu ketika mereka akan tampil dalam sebuah acara, mereka memanfaatkan media internet sebagai sarana untuk berlatih selain berlatih sendiri di kediaman masing-masing personil. "Jadi ketika akan manggung di suatu daerah biasanya kita diskusikan lewat Internet, lagu apa yang akan kita bawakan, siapa personilnya. Kemudian tinggal menyebarkan partitur atau notasi kepada para personil dan mereka akan latihan sendiri dirumahnya masing-masing", pungkasnya.
"Jadi kita hanya akan latihan bersama pada sesaat sebelum pentas dimulai, karena hanya situasi itu yang memungkinkan kita bisa bertemu mengingat rumah tinggal para personil OK Cyber yang berbeda-beda", lanjutnya. Ya walaupun praktis kelompok tersebut hanya berlatih sekali, namun mereka tetap bisa bermain bagus, pasalnya hampir sebagian besar personil OK Cyber juga mempunyai orkes keroncong sendiri-sendiri didaerahnya. Seperti halnya Adi B. Wiratma yang juga mempunyai orkes keroncong bernama OK Jempol Jentik.
Bagi komunitas ini keroncong adalah sebagian dari belahan jiwa mereka. Bahkan ada sebuah semboyan yang selalu mereka canangkan yakni 'Jangan sampai pekerjaan atau belajar mengganggu aktivitas bermain keroncong'.
"Personil OK Cyber kebanyakan profesional muda dari beragam latar belakang, yang cukup mengherankan ada beberapa personil OK Cyber yang rela cuti demi bisa bermain Keroncong, seperti Wiwit yang telah 10 kali cuti dalam setahun", jelasnya.
Kecintaan komunitas ini terhadap keroncong bukan hanya terbukti pada loyalitas para anggota dan ramainya diskusi yang terjalin di mailing list yang diberinama keroncong@yahoogroups.com semata namun juga dalam wujud sebuah buletin yang mereka terbitkan di beberapa wilayah di Indonesia.
Pada perhelatan SKF 2010 kemarin, kelompok yang digawangi oleh Kol. Purn. Satoto dan Imam pada bass, Dadis pada flute, Adi B. Wiratma pada bass, Dedi pada cello, Bejo pada cak, dan Wiwit pada cuk membawakan empat buah lagu, yakni keroncong Bandar Jakarta, keroncong Idaman Seniman, Emut Bae salah satu lagu daerah Bandung, dan lagu terakhir adalah lagu yang dulu pernah dipopulerkan oleh ABBA yang berjudul Fernando.
Dilaporkan oleh Bram/Timlo.netFoto Terkait
Berita Terkait
Komentar Anda
26/07/2010

Tulis Komentar