Segera Realisasikan Solo Menjadi Ibukota Keroncong

Djaduk : Jokowi Jangan Takut Deklarasikan Solo Sebagai Ibukota Keroncong

Senin, 26 Juli 2010 | 12:55 WIB
Dok. Timlo.Net/Bram
Djaduk : Jokowi Jangan Takut Deklarasikan Solo Sebagai Ibokota Keroncong (25/7)

Solo - Kota Solo sudah layak disebut sebagai Ibukota Musik Keroncong. Hal tersebut disampaikan musisi dan budayawan kondang Djaduk Ferianto dalam perhelatan Solo Keroncong Festival (SKF) 2010, yang digelar di Ngarsopuro kemarin, (25/7/2010). Menurutnya banyak parameter yang bisa menunjukkan bahwa kota Solo layak menyandang sebagai Ibukota Keroncong.

“Karakteristik Solo ini sangat melekat dengan keroncong. Semangat wong Solo terhadap keroncong sudah melebur dalam berbagai aspek, sehingga bisa dilihat bahwa musik keroncong bukan hanya sebuah repertoar yang disajikan semata namun merambah pada kehidupan sosial masyarakat”, terang Djaduk disela-sela perhelatan SKF 2010 di Ngarsopuro, (25/7/2010). Ia menambahkan keroncong sudah menjadi bagian dan tatanan budaya masyarakat Solo.

“Tidak usah terlalu banyak bilang parameter yang menyebutkan kota Solo sebagai Ibukota Keroncong, parameter itu seperti halnya dosen bicara tentang sebuah definisi. Maka dari itu melihat realita dan perkembangan musik keroncong di Solo ini sudah dapat digambarkan bahwa Solo layak disebut sebagai Ibukota Keroncong”, tandasnya.

Djaduk juga mengharapkan kepada pemerintah untuk segera merealisasikan wacana tersebut menjadi sebuah kenyataan. “Jangan hanya jadi wacana saja, segeralah dideklarasikan. Saya harap Walikota Solo bapak Jokowi tidak ragu-ragu untuk mendeklarasikan Solo sebagai kota keroncong”, terangnya.

Even Solo Keroncong Festival ini menurut Djaduk menjadi sebuah momentum awal untuk menjadikan Solo sebagai Ibukota  keroncong. “Even ini luar biasa, karena tentu saja keroncong sudah menjadi ikon kota Solo sejak lama, seperti halnya ikon-ikon lain di kota Solo ini. Saya berharap pak Jokowi tidak takut untuk segera merealisasikannya”, tandasnya.

Sementara itu Djaduk Ferianto yang tampil bersama OK. Sinten Remen dalam SKF 2010, menyajikan sebuah garapan musik yang unik, lagu-lagu dolanan anak digubah sedemikian rupa menjadi bentuk sindiran terhadap situasi memprihatinkan yang terjadi di Indonesia.

Dilaporkan oleh Bram/Timlo.net

Foto Terkait

Berita ini telah dibaca 463 kali
Dikirim melalui Timlo.Net - Portal Informasi Solo  
       

Berita Terkait

Komentar Anda

hernoe
26/07/2010
betul sekali, NUNGGU APA LAGI?
Mas Kampret
26/07/2010
Kang Jadug ki aja nambah-nambahi berguden neng Solo, ya! Solo ki wis kakehan label ning ora ana sing cementhel neng uripe wong Solo. Teorimu ya mung bener neng ndhuwur dluwang. Kuwi mengko ora wurung mung arep ngguwangi dhuwit sing ora temanja neng uripe masyarakat. Solo lagi akeh wong mbambung aja mbok bombong!
Retno
26/07/2010
mas djaduk, bermain dengan baik, seorang yang multi talenta, terimakasih telah tampil di solo
Widarto
27/07/2010
Saya setuju sekaleee. Th 2008 lalu di Solo International Keroncong Festoval, juga sudah dideklarasikan bahwa keraton ( Mangkunegaran atau Kasunanan ya?) menjadi 'Singgasana Maya' bagi keroncong internasional Jadi kalau sekarang Solo mau jadi kota keroncong ya jelas tepat sekal. Sebagai orang bukan dari Solo, sy melihat betapa wong Solo sgt keroncong mindeed. Semua org (termasuk tukang beca yg datang dengan becaknya, bapak-2 yg dg sepeda) sudah bisa menilai mana orkes, penyanyi yg bagus dan tidak
cahyo sw
28/07/2010
saya secara pribadi sangat mendukung musik keroncong & saya setuju kuto solo menjadi ibu kota keroncong & berharap musik keroncong terus berkembang
supriyanto
28/07/2010
kembalikan ke rakyat dan masyarakat saja, maunya seperti apa.

Tulis Komentar