Wayang Climen Keluar Dari Pakem Wayang, Ajak Penonton Komunikatif

Wayang Climen Akan Digelar di Balai Soedjatmoko

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Rabu, 4 Agustus 2010 | 20:26 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Wayang Climen bakal digelar di Balai Soedjatmoko.

Solo – Sebuah pentas Wayang Climen bakal digelar di Balai Soedjatmoko, Minggu, 8 Agustus 2010, Pukul 21.30 WIB, wayang yang merupakan garapan dari dalang kawakan Wayang Kampung Sebelah (WKS), Ki Jlitheng Suparman, bakal tampil diluar konsep pakem wayang pada umumnya.  

Proses dialog dan diskusi antara sang dalang dengan penonton akan jauh lebih kental mewarnai jalannya pertunjukan wayang ini. Konsep komunikatif antara sang dalang para penonton ini sangat mirip dengan konsep teater rakyat yang dulu pada era tahun 1990an sangat kondang.

Pementasan Wayang Climen sendiri akan mengambil lakon “WIDOROKANDHANG”. Menceritakan tentang Widarakandhang sebuah desa yang letaknya sangat jauh dari kota pusat kerajaan Mandura. Prabu Basudewa sengaja memilih desa itu untuk menyembunyikan ketiga anaknya dari ancaman maut Kangsadewa, putera pungut sang raja, yang begitu berambisi meraih tahta, yang dengan kesaktiannya tiada segan menghabisi siapa pun yang dianggap menjadi penghalang ambisinya.

Di Widarakandhang, Kresna tumbuh sebagai remaja yang liar namun cerdas. Balarama tumbuh menjadi remaja lugas namun tangkas. Demikian juga Bratajaya tumbuh sebagai remaja putri yang sederhana namun pintar penuh keberanian. Sampai detik itu ketiganya belum sadar bahwa mereka adalah putera penguasa negeri Mandura, Prabu Basudewa. Karena ketiganya sejak masih bayi sengaja disembunyikan dengan dititipkan kepada Buyut Antyagopa di desa nan jauh dari pusat kerajaan tersebut.

Seiring dengan pertumbuhan usia, ketiga kakak beradik itu tak dapat lagi menyembunyikan tanda-tanda darah "linuwih" yang mengalir di tubuh mereka. Keliaran dan kecerdasan Kresna seringkali mengundang perhatian dari banyak orang. Kepiawaian Balarama menaklukkan dan memelihara segala macam jenis binatang dari yang kecil sampai yang besar mengundang banyak kekaguman. Bratajaya yang tumbuh makin cantik, pintar dan penuh santun mempesona setiap insan. Buyut Antyagopa menjadi gelisah. Bila gaung nama ketiganya sampai menembus kota niscaya misi menyembunyikan putera mahkota terancam gagal. Buyut tua itu pun bertekad mengaburkan tanda-tanda yang dapat menguak rahasia kesejatian mereka agar ketiganya terlepas dari ancaman maut yang ditebar oleh Kangsadewa.

Dalam pementasan wayang tersebut, yang bertindak sebagai dalang adalah Ki Jlitheng Suparman,  dengan komposer Yayat Suheryatna, pengrawit Yayat Suheryatna, Danis Sugiyanto, Heri Purwanto, Risnandar, Kris Bodong, Agus Pras, Gendut, serta pesindhen  Nanik Dwi Widyaningrum.

        

Berita Terkait

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. wajib diisi yang bertanda *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125