Wayang Climen Akan Digelar di Balai Soedjatmoko
Solo – Sebuah pentas Wayang Climen bakal digelar di Balai Soedjatmoko, Minggu, 8 Agustus 2010, Pukul 21.30 WIB, wayang yang merupakan garapan dari dalang kawakan Wayang Kampung Sebelah (WKS), Ki Jlitheng Suparman, bakal tampil diluar konsep pakem wayang pada umumnya.
Proses dialog dan diskusi antara sang dalang dengan penonton akan jauh lebih kental mewarnai jalannya pertunjukan wayang ini. Konsep komunikatif antara sang dalang para penonton ini sangat mirip dengan konsep teater rakyat yang dulu pada era tahun 1990an sangat kondang.
Pementasan Wayang Climen sendiri akan mengambil lakon “WIDOROKANDHANG”. Menceritakan tentang Widarakandhang sebuah desa yang letaknya sangat jauh dari kota pusat kerajaan Mandura. Prabu Basudewa sengaja memilih desa itu untuk menyembunyikan ketiga anaknya dari ancaman maut Kangsadewa, putera pungut sang raja, yang begitu berambisi meraih tahta, yang dengan kesaktiannya tiada segan menghabisi siapa pun yang dianggap menjadi penghalang ambisinya.
Di Widarakandhang, Kresna tumbuh sebagai remaja yang liar namun cerdas. Balarama tumbuh menjadi remaja lugas namun tangkas. Demikian juga Bratajaya tumbuh sebagai remaja putri yang sederhana namun pintar penuh keberanian. Sampai detik itu ketiganya belum sadar bahwa mereka adalah putera penguasa negeri Mandura, Prabu Basudewa. Karena ketiganya sejak masih bayi sengaja disembunyikan dengan dititipkan kepada Buyut Antyagopa di desa nan jauh dari pusat kerajaan tersebut.
Seiring dengan pertumbuhan usia, ketiga kakak beradik itu tak dapat lagi menyembunyikan tanda-tanda darah "linuwih" yang mengalir di tubuh mereka. Keliaran dan kecerdasan Kresna seringkali mengundang perhatian dari banyak orang. Kepiawaian Balarama menaklukkan dan memelihara segala macam jenis binatang dari yang kecil sampai yang besar mengundang banyak kekaguman. Bratajaya yang tumbuh makin cantik, pintar dan penuh santun mempesona setiap insan. Buyut Antyagopa menjadi gelisah. Bila gaung nama ketiganya sampai menembus kota niscaya misi menyembunyikan putera mahkota terancam gagal. Buyut tua itu pun bertekad mengaburkan tanda-tanda yang dapat menguak rahasia kesejatian mereka agar ketiganya terlepas dari ancaman maut yang ditebar oleh Kangsadewa.
Dalam pementasan wayang tersebut, yang bertindak sebagai dalang adalah Ki Jlitheng Suparman, dengan komposer Yayat Suheryatna, pengrawit Yayat Suheryatna, Danis Sugiyanto, Heri Purwanto, Risnandar, Kris Bodong, Agus Pras, Gendut, serta pesindhen Nanik Dwi Widyaningrum.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Bimo Putranto Berharap Pasoepati Le...
- Jokowi Harap Pasoepati Lebih Santun
- Warung Makan Tidak Berizin Segera D...
- Pendapi Gede Penuh Pasoepati
- Fantastis, Alokasi Layanan Data Tem...
- Layanan Data Kian Jadi Primadona
- Apes, Pekerja Asal Bandung Terlanta...
- Kawan Lama, Menggoda dengan Harga I...
- Pameran Cantik di Bulan Kasih Sayan...
- Sejumlah Pejabat Klaten Dimutasi
- 12 Tenant Mall Paragon Terancam Bat...
- Murtidjono Jadikan TBJT Sebagai Rum...
- TBJT Kenang Murtidjono dengan Doa &...
- Penyempurnaan Mobil Esemka Selesai ...
- Jelang Revitalisasi Pasar, HPPS Gel...
Berita Terpopuler
- Ultah ke-12, Pasoepati Tabuh...
- Jokowi Nonton Musik Rock ke...
- UNS Peringkat 7 Terbaik di...
- Fenomena Langit Terbelah Muncul di...
- Pramekers Siap Hengkang dari...
- Jokowi-Rudy Mulai Kenakan Seragam...
- Demi Pariwisata, Jokowi Siap Lobi...
- 23 Pebruari, PNS Solo Pakai Seragam...
- Tengkorak Manusia Gegerkan Warga...
- Sisa Umur Waduk Gajah Mungkur Tak...
- Bangun SCK, Klaten Siap Gelar PON
- SBY Mau Datang, Portal Dibongkar
- Jokowi: Kalau Saya Copot, Jangan...
- Timor Leste Kepincut Kesuksesan...
- Lama Kumpul Kebo, Akhirnya Bisa...
