Ketoprak Ngampung, Bertahan Karena Merakyat
Solo – Sebuah gagasan yang cukup brilian dengan mengembalikan sebuah tontonan rakyat ketoprak di kampung-kampung ketika sebuah tontonan ketoprak yang digelar digedung-gedung kesenian mulai kurang diminati masyarakat. Proses jemput bola ini dilakukan oleh sebuah komunitas ketoprak yang menamakan dirinya Ketoprak Ngampung.
Berawal dari sebuah keprihatian bersama yakni sepinya tontonan ketoprak di kampung halaman mereka sendiri. Dahulu Solo yang terkenal dengan pertunjukan ketoprak tobongnya kini mulai tergerus dengan situasi jaman yang sudah semakin modern. Melihat kondisi tersebut, sebuah komunitas yang terdiri dari para bekas seniman ketoprak tobong dan para remaja yang merupakan anak-anak dari para seniman Ketoprak Tobong, mencoba membuat sebuah inovasi dengan sebuah komunitas ketoprak yang diberi nama Ketoprak Ngampung.
Menurut Dwi Mustanto salah seorang seniman di komunitas tersebut, lahirnya komunitas ketoprak yang berdiri tahun 2007 ini adalah wujud kepedulian para seniman ketoprak untuk terus melestarikan ketoprak dengan mencoba lebih mendekatkan pada masyarakat. “Jika kita lihat di GWO, atau di RRI terlihat jarak yang cukup jauh antara pemain dan penonton, disini kami ingin memotong jarak itu dan lebih mendekatkan ketoprak kepada para penontonnya, sembari mencoba mengembalikan sebuah tontonan ketoprak yang dulunya berasal dari kampung”, terangnya.
Cukup menarik jika melihat ketoprak ini manggung. Bukan hanya tingkah laku dan banyolan atau dagelan para pemainnya yang membuat kita meringis tertawa, namun juga cerita garapannya yang cukup kritis. “Kami selalu mempelajari situasi disetiap kampung yang akan kita datangi dengan mencoba bertanya kepada salah satu warga, kira-kira masalah apa yang terjadi, kemudian kita angkat dalam sebuah cerita ketoprak, jadi bisa dibilang cerita ketoprak kita lebih aktual”, paparnya.
Demi mewujudkan cita-cita komunitas ketoprak ini yakni melestarikan ketoprak, kelompok ini rela menggelar berbagai show di beberapa wilayah di kota Surakarta. Untuk menghidupi biaya pementasan, kelompok ini selalu mengedarkan tampah sebagai wujud ngamen mereka untuk pembiayaan produksi. “Kami disini meminta bantuan sumbangan masyarakat bukan untuk membayar kami, namun untuk membayar segala ongkos produksi, baik itu sound system ataupun perangkat yang lain”, imbuhnya.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Bimo Putranto Berharap Pasoepati Le...
- Jokowi Harap Pasoepati Lebih Santun
- Warung Makan Tidak Berizin Segera D...
- Pendapi Gede Penuh Pasoepati
- Fantastis, Alokasi Layanan Data Tem...
- Layanan Data Kian Jadi Primadona
- Apes, Pekerja Asal Bandung Terlanta...
- Kawan Lama, Menggoda dengan Harga I...
- Pameran Cantik di Bulan Kasih Sayan...
- Sejumlah Pejabat Klaten Dimutasi
- 12 Tenant Mall Paragon Terancam Bat...
- Murtidjono Jadikan TBJT Sebagai Rum...
- TBJT Kenang Murtidjono dengan Doa &...
- Penyempurnaan Mobil Esemka Selesai ...
- Jelang Revitalisasi Pasar, HPPS Gel...
Berita Terpopuler
- Ultah ke-12, Pasoepati Tabuh...
- Jokowi Nonton Musik Rock ke...
- UNS Peringkat 7 Terbaik di...
- Fenomena Langit Terbelah Muncul di...
- Pramekers Siap Hengkang dari...
- Jokowi-Rudy Mulai Kenakan Seragam...
- Demi Pariwisata, Jokowi Siap Lobi...
- 23 Pebruari, PNS Solo Pakai Seragam...
- Tengkorak Manusia Gegerkan Warga...
- Sisa Umur Waduk Gajah Mungkur Tak...
- Bangun SCK, Klaten Siap Gelar PON
- SBY Mau Datang, Portal Dibongkar
- Jokowi: Kalau Saya Copot, Jangan...
- Timor Leste Kepincut Kesuksesan...
- Lama Kumpul Kebo, Akhirnya Bisa...
