• Jumat, 18 Mei 2012
Tontonan Rakyat, Pesan Lebih Aktual 

Ketoprak Ngampung, Bertahan Karena Merakyat

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Minggu, 8 Agustus 2010 | 01:10 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Salah satu aksi para seniman ketoprak ngampung. (6/8)

Solo – Sebuah gagasan yang cukup brilian dengan mengembalikan sebuah tontonan rakyat ketoprak di kampung-kampung ketika sebuah tontonan ketoprak yang digelar digedung-gedung kesenian mulai kurang diminati masyarakat. Proses jemput bola ini dilakukan oleh sebuah komunitas ketoprak yang menamakan dirinya Ketoprak Ngampung.

Berawal dari sebuah keprihatian bersama yakni sepinya tontonan ketoprak di kampung halaman mereka sendiri. Dahulu Solo yang terkenal dengan pertunjukan ketoprak tobongnya kini mulai tergerus dengan situasi jaman yang sudah semakin modern. Melihat kondisi tersebut, sebuah komunitas yang terdiri dari para bekas seniman ketoprak tobong dan para remaja yang merupakan anak-anak dari para seniman Ketoprak Tobong, mencoba membuat sebuah inovasi dengan sebuah komunitas ketoprak yang diberi nama Ketoprak Ngampung.

Menurut Dwi Mustanto salah seorang seniman di komunitas tersebut, lahirnya komunitas ketoprak yang berdiri tahun 2007 ini adalah wujud kepedulian para seniman ketoprak untuk terus melestarikan ketoprak dengan mencoba lebih mendekatkan pada masyarakat. “Jika kita lihat di GWO, atau di RRI terlihat jarak yang cukup jauh antara pemain dan penonton, disini kami ingin memotong jarak itu dan lebih mendekatkan ketoprak kepada para penontonnya, sembari mencoba mengembalikan sebuah tontonan ketoprak yang dulunya berasal dari kampung”, terangnya.

Cukup menarik jika melihat ketoprak ini manggung. Bukan hanya tingkah laku dan banyolan atau dagelan para pemainnya yang membuat kita meringis tertawa, namun juga cerita garapannya yang cukup kritis. “Kami selalu mempelajari situasi disetiap kampung yang akan kita datangi dengan mencoba bertanya kepada salah satu warga, kira-kira masalah apa yang terjadi, kemudian kita angkat dalam sebuah cerita ketoprak, jadi bisa dibilang cerita ketoprak kita lebih aktual”, paparnya.

Demi mewujudkan cita-cita komunitas ketoprak ini yakni melestarikan ketoprak, kelompok ini rela menggelar berbagai show di beberapa wilayah di kota Surakarta. Untuk menghidupi biaya pementasan, kelompok ini selalu mengedarkan tampah sebagai wujud ngamen mereka untuk pembiayaan produksi. “Kami disini meminta bantuan sumbangan masyarakat bukan untuk membayar kami, namun untuk membayar segala ongkos produksi, baik itu sound system ataupun perangkat yang lain”, imbuhnya. 

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125