Bertahan Ditengah Pelarangan

Dalang Thio Thiong Gie: Wayang Potehi, Sempat Mati Suri

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Senin, 9 Agustus 2010 | 18:11 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Wayang Potehi, Sempat Mati Suri. (8/8)

Solo – Diluar berbagai jenis wayang yang ada di kota Solo, ada satu Wayang yang hampir punah. Yakni Wayang Potehi. Wayang yang diperkirakan masuk di Indonesia pada abad 16 hingga 19, awal mulanya Wayang Potehi ini dibawa oleh para pedagang dari dataran Cina di Indonesia, yang kemudian membaur menjadi sebuah Wayang yang berkembang di daerah-daerah pecinan di Indonesia.

Sayangnya perjalanan Wayang Potehi di Indonesia tidak berjalan mulus. Adanya Wayang lokal (Wayang Purwo, Golek, dan lain lain) menjadi saingan tersendiri bagi Wayang Potehi untuk lebih mengenalkan pada masyarakat kala itu. Situasi pahitnya bahwa Wayang ini sempat mengalami masa-masa suram bahkan pelarangan pertunjukan Wayang ini juga sempat digulirkan oleh Presiden Indonesia ke-2.

Salah seorang dalang wayang Potehi, Thio Thiong Gie, atau yang dikenal dengan nama Teguh Chandra Irawan, sempat menceritakan bahwa semasa pemerintahan Presiden Suharto melarang keberadaan Wayang ini muncul ditengah masyarakat. “Saya masih ingat pak Harto mengeluarkan Kepres No. 14 tahun 1967, yang kalau tidak salah isinya adalah tidak dibenarkannya acara-acara ritual-ritual dan segala pertunjukan yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Cina didepan publik”, terangnya disela-sela pementasan Wayang Potehi yang digelar dalam rangka perayaan  Dewi Kwan Im mencapai kesempurnaan Budha.

Teguh sangat menyayangkan hal tersebut, pasalnya selama 32 tahun lebih Wayang Potehi dan tradisi-tradisi masyarakat Cina lainnya terpasung oleh sebuah keputusan yang sangat tidak masuk akal. “Masih jelas diingatan saya, suatu ketika Wayang Potehi tampil di halaman Klentheng dan tiba-tiba harus dibubarkan. Saya sangat kecewa, soalnya kita bukan main di tempat umum, main di dalam Klenteng masih saja diusik”, paparnya.

Tahun 1999 menjadi setetes asa bagi para seniman Wayang Potehi, setelah 32 tahun vakum, wayang ini kali pertamanya tampil bersama wayang-wayang lainnya dalam acara budaya yang digelar Universitas Gajah Mada. “Yang paling membahagiakan lagi ketika presiden Gus Dur mencabut kepres No. 14 tahun 1967, itu menjadi awal bagi saya untuk terus melestarikan Wayang Potehi”, ujarnya.

Teguh yang sudah berusia renta, sampai saat ini masih memainkan sebuah tradisi yang sudah sangat melekat dalam dirinya. Baginya kesenian Wayang Potehi bukan hanya pertunjukan semata namun ada fungsi sosial dan ritual yang terkandung didalamnya. “Sebelum saya memainkan lakon Jendral Sie Djin Kwie terlebih dahulu saya akan berdoa untuk bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensional ini”, imbuhnya.

        

Berita Terkait

  • Tidak Ada Berita Terkait

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. wajib diisi yang bertanda *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125