Dalang Thio Thiong Gie: Wayang Potehi, Sempat Mati Suri
Solo – Diluar berbagai jenis wayang yang ada di kota Solo, ada satu Wayang yang hampir punah. Yakni Wayang Potehi. Wayang yang diperkirakan masuk di Indonesia pada abad 16 hingga 19, awal mulanya Wayang Potehi ini dibawa oleh para pedagang dari dataran Cina di Indonesia, yang kemudian membaur menjadi sebuah Wayang yang berkembang di daerah-daerah pecinan di Indonesia.
Sayangnya perjalanan Wayang Potehi di Indonesia tidak berjalan mulus. Adanya Wayang lokal (Wayang Purwo, Golek, dan lain lain) menjadi saingan tersendiri bagi Wayang Potehi untuk lebih mengenalkan pada masyarakat kala itu. Situasi pahitnya bahwa Wayang ini sempat mengalami masa-masa suram bahkan pelarangan pertunjukan Wayang ini juga sempat digulirkan oleh Presiden Indonesia ke-2.
Salah seorang dalang wayang Potehi, Thio Thiong Gie, atau yang dikenal dengan nama Teguh Chandra Irawan, sempat menceritakan bahwa semasa pemerintahan Presiden Suharto melarang keberadaan Wayang ini muncul ditengah masyarakat. “Saya masih ingat pak Harto mengeluarkan Kepres No. 14 tahun 1967, yang kalau tidak salah isinya adalah tidak dibenarkannya acara-acara ritual-ritual dan segala pertunjukan yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Cina didepan publik”, terangnya disela-sela pementasan Wayang Potehi yang digelar dalam rangka perayaan Dewi Kwan Im mencapai kesempurnaan Budha.
Teguh sangat menyayangkan hal tersebut, pasalnya selama 32 tahun lebih Wayang Potehi dan tradisi-tradisi masyarakat Cina lainnya terpasung oleh sebuah keputusan yang sangat tidak masuk akal. “Masih jelas diingatan saya, suatu ketika Wayang Potehi tampil di halaman Klentheng dan tiba-tiba harus dibubarkan. Saya sangat kecewa, soalnya kita bukan main di tempat umum, main di dalam Klenteng masih saja diusik”, paparnya.
Tahun 1999 menjadi setetes asa bagi para seniman Wayang Potehi, setelah 32 tahun vakum, wayang ini kali pertamanya tampil bersama wayang-wayang lainnya dalam acara budaya yang digelar Universitas Gajah Mada. “Yang paling membahagiakan lagi ketika presiden Gus Dur mencabut kepres No. 14 tahun 1967, itu menjadi awal bagi saya untuk terus melestarikan Wayang Potehi”, ujarnya.
Teguh yang sudah berusia renta, sampai saat ini masih memainkan sebuah tradisi yang sudah sangat melekat dalam dirinya. Baginya kesenian Wayang Potehi bukan hanya pertunjukan semata namun ada fungsi sosial dan ritual yang terkandung didalamnya. “Sebelum saya memainkan lakon Jendral Sie Djin Kwie terlebih dahulu saya akan berdoa untuk bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensional ini”, imbuhnya.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Bimo Putranto Berharap Pasoepati Le...
- Jokowi Harap Pasoepati Lebih Santun
- Warung Makan Tidak Berizin Segera D...
- Pendapi Gede Penuh Pasoepati
- Fantastis, Alokasi Layanan Data Tem...
- Layanan Data Kian Jadi Primadona
- Apes, Pekerja Asal Bandung Terlanta...
- Kawan Lama, Menggoda dengan Harga I...
- Pameran Cantik di Bulan Kasih Sayan...
- Sejumlah Pejabat Klaten Dimutasi
- 12 Tenant Mall Paragon Terancam Bat...
- Murtidjono Jadikan TBJT Sebagai Rum...
- TBJT Kenang Murtidjono dengan Doa &...
- Penyempurnaan Mobil Esemka Selesai ...
- Jelang Revitalisasi Pasar, HPPS Gel...
Berita Terpopuler
- Ultah ke-12, Pasoepati Tabuh...
- Jokowi Nonton Musik Rock ke...
- UNS Peringkat 7 Terbaik di...
- Fenomena Langit Terbelah Muncul di...
- Pramekers Siap Hengkang dari...
- Jokowi-Rudy Mulai Kenakan Seragam...
- Demi Pariwisata, Jokowi Siap Lobi...
- 23 Pebruari, PNS Solo Pakai Seragam...
- Tengkorak Manusia Gegerkan Warga...
- Sisa Umur Waduk Gajah Mungkur Tak...
- Bangun SCK, Klaten Siap Gelar PON
- SBY Mau Datang, Portal Dibongkar
- Jokowi: Kalau Saya Copot, Jangan...
- Timor Leste Kepincut Kesuksesan...
- Lama Kumpul Kebo, Akhirnya Bisa...
