Kaget Disambut para Menteri dan Kepala Negara
Solo – Salah seorang saksi hidup dalam misi kesenian ke mancanegara tahun 1952 hingga 1965 adalah Irawati Jogasuria atau yang juga akrab dipanggil dengan nama Irawati Durban Ardjo. Selain menjadi saksi hidup dalam misi kesenian mancanegara, ia juga merupakan peneliti sekaligus narasumber dalam film dokumenter bertajuk menggelar Indonesia yang digarap oleh Jennifer Lindsay. Ketika reporter Timlo.net menemuinya, ia banyak bercerita tentang pengalaman menarik ketika ia terpilih mengikuti misi tersebut. Berikut petikan wawancaranya.
Dalam misi kesenian mancanegara tersebut, beberapa seniman yang menjadi delegasinya beberapa masih dalam usia belia, termasuk Irawati Jogasuria. Ia berumur 14 tahun ketika terpilih sebagai delegasi Indonesia yang berangkat keluar negeri. “Waktu itu saya masih berusia 14 tahun. Saya ini anak orang tidak mampu. Jadi tidak pernah membayangkan bisa dikirim ke luar negeri. Namun tanpa disangka saya berhasil dipilih Kepala P&K Bandung untuk ikut dalam misi tersebut. Waktu saya bukan main senangnya”, kenangnya kepada Timlo.net.
Wanita kelahiran Bandung 22 Mei 1943 ini sejak usia belia memang sudah menggeluti dunia tari. Tak ayal kiprahnya dalam mengikuti misi kesenian mancanegara terasa sangat mudah baginya. “Saya sejak kecil sudah menari, jadi sangat mudah bagi saya untuk lolos seleksi dan terpilih berangkat keluar negeri”, ujarnya.
Baginya selama dalam lawatanya keluar negeri dalam rangka misi kesenian tersebut, hal yang paling berkesan adalah ketika ia melihat sambutan luar biasa yang ditunjukkan oleh tuan rumah negara yang dikunjungi. “Bagi saya semua kunjungan ini sangat berkesan, namun yang tidak terlupakan adalah ketika kita datang daerah tujuan, dan disana para menteri, bahkan kepala negara menyambut kita dengan sangat baik. Ini diluar dugaan saya. Rasanya saya ini seperti tamu penting”, terangnya.
Lulusan Senirupa Interior ITB tahun 1975 ini sampai sekarang masih menggeluti dunia tari. Walaupun sekarang usianya telah menginjak 67 tahun, Ia masih sangat aktif dunia seni. Terakhir dia adalah seorang dosen di STSI Bandung. “Semenjak saya pulang saya melanjutkan studi saya dan akhirnya mengajar di STSI Bandung dan akhirnya pensiun beberapa waktu yang lalu. Namun sampai saat ini saya masih mempunyai sanggar yang saya beri nama Pusbitari (pusat bina tari). Sanggar ini berisi anak-anak yang belajar tari”, ungkapnya.
Sejauh ini masih ada capain yang masih ingin ia raih, yakni membuat sebuah opera yang berceritakan tentang kemerdekaan. “Saya ingin membuat opera, dimana itu menjadi sebuah drama musical yang dikemas dalam musik orkestra. Namun saat ini belum kesampaian, dana yang belum ada. Dan masih sedikit yang mau menyumbang”, ujarnya.
Diluar itu ia juga sangat mengharapkan bagi para generasi muda untuk mulai peduli terhadap budaya daerahnya. Pasalnya budaya daerah sangatlah membutuhkan peran generasi mudanya untuk tumbuh dan berkembang, lanjutnya.
Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Balasan
Berita Terkini
- Persis Waspadai Serangan Balik Pers...
- Amankan Libur Panjang, Polresta Sol...
- Liburan, Lalu Lintas di Klaten Pada...
- Bisnis Perumahan di Solo Kian Ramai
- Piye Iki! Ikut Rekam E-KTP, Warga H...
- Sruti Respati dan Puteri Indonesia ...
- Kerabat Keraton Pertanyakan Hasil R...
- Ibu Muda Jual Sabu-sabu Ditangkap d...
- LUIS Minta Densus 88 Perbaiki Tekni...
- UPTPK Sragen Belum Punya Kendaraan ...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Museum Samanhudi Diresmikan
- 3% Pelaku Ekonomi Adalah Konglomera...
- Napak Budaya Samanhudi, Puluhan Gun...
- Amir Ambyah: Banyak Koperasi di Sra...
Berita Terpopuler
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Akhirnya, Raja Kembar Solo Berdamai
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- "Tukang Plat" Diberondong Tembakan
- Kecelakaan di Satelit Ngemplak, 1...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Lha Ini, Akibat Merokok Sambil...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu
- Petinggi Universitas Ditahan
- Truk Gandeng Tabrak Dua Motor, 2...
- FPI: Kami Tak Ada Masalah dengan...
- Lanud Adi Soemarmo Jadi Kawah...
- Mobil Anggota TNI Nyemplung Jurang...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...


SMKN 2 Wonogiri Serius Rakit Truk M...
Purwantoro Masih Mengandalkan Indus...
Sendang Sinangka Saksi Bisu Perjuan...
Potret Wonogiri Terekam Dalam Pamer...
Pameran Produk Unggulan Wonogiri Di...
Kenakan Beskap, Bupati Wonogiri Lan...
Pangeran Sambernyowo Bagi Wonogiri ...
peran kesenian yang sering terbaikan oleh pemerintah, akhirnya menjadikan budaya ini juga luntur.
Saya mulai kumpul2 data tentang budaya saya di kalimantan timur. dimulai dari sejarahnya. moga jika terkumpul nanti datanya akan bermanfaat bagi kerabat
Setuju sekali ….
Sudah saatnya kita peduli terhadap kebudayaan kita … berawal dari kebudayaan daerah masing-masing …
agar kebudayaan kita tetap selalu terjaga … (tidak dipatenkan oleh negara lain lagi).
SALAM PERSAHABATAN BLOG DARI KALIMANTAN TENGAH.
budaya adalah aset adalah sebuah pernyataan yang tidak terlaru berlihan…