At The Very Bottom of Everything Film Mendalam Pengidap Biopolar Disorder
Solo – Paul Agusta kembali menggelar roadshow film panjang yang berjudul At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya). Film panjang ke dua Paul Agusta ini mampir di Gedung Kesenian Solo (GKS) setelah sebelumnya diputar di Jakarta, Malang dan Jogjakarta. Dalam film keduanya ini, sang sutradara (Paul Agusta) yang terkenal dengan eksplorasi eksperimentalnya, menyajikan sebuah garapan yang cukup membelalak mata para penikmat film Solo.
At The Very Bottom of Everything Film yang berdurasi 83 menit ini terinspirasi dari sebuah kasus penyakit Bipolar Disorder (juga dikenal sebagai Manic Depression) yang juga dijangkit oleh sang sutradara sendiri. “Film ini menggambarkan seorang wanita yang terkena Bipolar Disorder sebuah penyakit biologis yang sering dianggap sebagai penyakit gila oleh masyarakat. Penyakit ini cukup berbahaya, karena berdampak terhadap perilaku dan emosi, dan fatalnya adalah munculnya keinginan bunuh diri”, paparnya kepada Timlo.net disela-sela pemutaran film di GKS, sore tadi, (13/8/2010).
Film yang membutuhkan waktu 2 minggu pengambilan gambar ini, berkisah tentang seorang wanita yang berusaha melawan Bipolar Disorder. “Saya mencoba menggambarkan dari sisi wanita yang menderita penyakit ini, jadi dalam film ini penonton akan diajak masuk kedalam kepala sang penderita mencoba mengetahui apa yang ia rasakan”, terangnya.
Sebuah fakta menunjukkan gangguan Bipolar memangkas sekitar 9,2 tahun dari perkiraan umur hidup seseorang, dan bahwa sebanyak satu dari lima pasien dengan kelainan genetik ini berhasil bunuh diri. Jumlah besar orang yang sudah didiagnosis (gangguan bipolar) di Indonesia jelas memerlukan perhatian khusus.
“Walaupun ini sebenarnya film diatas 17 tahun karena memperlihatkan sisi ketelanjangan, namun melihat fakta dari penyakit ini. Saya sangat berharap semua masyarakat dengan berbagai usia melihat film ini. Karena disini saya mencoba mengkomunikasikan kepada masyarakat agar mereka tahu tentang penyakit ini”, jelasnya.
Film ini dibintangi Kartika Jahja dan T. Rifnu Wikana, juga memaparkan sebuah solusi satu-satunya untuk bertahan dari penyakit ini. “Satu-satunya cara agar normal, dengan mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menstabilkan mood. Cukup berat karena seumur hidup harus mengkonsumsi obat”, katanya.
Berita Terkait
Komentar
Tulis Komentar
Berita Terkini
- Bimo Putranto Berharap Pasoepati Le...
- Jokowi Harap Pasoepati Lebih Santun
- Warung Makan Tidak Berizin Segera D...
- Pendapi Gede Penuh Pasoepati
- Fantastis, Alokasi Layanan Data Tem...
- Layanan Data Kian Jadi Primadona
- Apes, Pekerja Asal Bandung Terlanta...
- Kawan Lama, Menggoda dengan Harga I...
- Pameran Cantik di Bulan Kasih Sayan...
- Sejumlah Pejabat Klaten Dimutasi
- 12 Tenant Mall Paragon Terancam Bat...
- Murtidjono Jadikan TBJT Sebagai Rum...
- TBJT Kenang Murtidjono dengan Doa &...
- Penyempurnaan Mobil Esemka Selesai ...
- Jelang Revitalisasi Pasar, HPPS Gel...
Berita Terpopuler
- Ultah ke-12, Pasoepati Tabuh...
- Jokowi Nonton Musik Rock ke...
- UNS Peringkat 7 Terbaik di...
- Fenomena Langit Terbelah Muncul di...
- Pramekers Siap Hengkang dari...
- Jokowi-Rudy Mulai Kenakan Seragam...
- Demi Pariwisata, Jokowi Siap Lobi...
- 23 Pebruari, PNS Solo Pakai Seragam...
- Tengkorak Manusia Gegerkan Warga...
- Sisa Umur Waduk Gajah Mungkur Tak...
- Bangun SCK, Klaten Siap Gelar PON
- SBY Mau Datang, Portal Dibongkar
- Jokowi: Kalau Saya Copot, Jangan...
- Timor Leste Kepincut Kesuksesan...
- Lama Kumpul Kebo, Akhirnya Bisa...

Gangguan bipolar adalah penyakit seumur hidup dan berulang, orang dengan gangguan kebutuhan perawatan jangka panjang untuk mempertahankan kontrol gejala bipolar. Perawatan yang efektif pengobatan termasuk obat dan psikoterapi untuk mencegah dan mengurangi keparahan kekambuhan gejala
baru tahu ada penyakit macam tuh..
ada soft copinya g?
saya se'org mahasiswa, pngidap bipolar,
td mlm, saya sngt depresi, n mnyayat nadi saya, saya tidak mrasakan sakit, saya hanya diam. stlh it tmn2 saya dtng, n mmbw saya k rmh skt. lg2 gagal.