Ajak Masyarakat Mengenal penyakit Biopolar Disorder

At The Very Bottom of Everything Film Mendalam Pengidap Biopolar Disorder

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Sabtu, 14 Agustus 2010 | 01:37 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
At The Very Bottom of Everything Film Mendalam Pengidap Biopolar Disorder karya Paul Agusta. (13/8)

Solo – Paul Agusta kembali menggelar roadshow film panjang yang berjudul At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya). Film panjang ke dua Paul Agusta ini mampir di Gedung Kesenian Solo (GKS) setelah  sebelumnya diputar di Jakarta, Malang dan Jogjakarta. Dalam film keduanya ini, sang sutradara (Paul Agusta) yang terkenal dengan eksplorasi eksperimentalnya, menyajikan sebuah garapan yang cukup membelalak mata para penikmat film Solo.

At The Very Bottom of Everything Film yang berdurasi 83 menit ini terinspirasi dari sebuah kasus penyakit Bipolar Disorder (juga dikenal sebagai Manic Depression) yang juga dijangkit oleh sang sutradara sendiri. “Film ini menggambarkan seorang wanita yang terkena Bipolar Disorder sebuah penyakit biologis yang sering dianggap sebagai penyakit gila oleh masyarakat. Penyakit ini cukup berbahaya, karena berdampak terhadap perilaku dan emosi, dan fatalnya adalah munculnya keinginan bunuh diri”, paparnya kepada Timlo.net disela-sela pemutaran film di GKS, sore tadi, (13/8/2010).

Film yang membutuhkan waktu 2 minggu pengambilan gambar ini, berkisah tentang seorang wanita yang berusaha melawan Bipolar Disorder. “Saya mencoba menggambarkan dari sisi wanita yang menderita penyakit ini, jadi dalam film ini penonton akan diajak masuk kedalam kepala sang penderita mencoba mengetahui apa yang ia rasakan”, terangnya.

Sebuah fakta menunjukkan gangguan Bipolar memangkas sekitar 9,2 tahun dari perkiraan umur hidup seseorang, dan bahwa sebanyak satu dari lima pasien dengan kelainan genetik ini berhasil bunuh diri. Jumlah besar orang yang sudah didiagnosis (gangguan bipolar) di Indonesia jelas memerlukan perhatian khusus.

“Walaupun ini sebenarnya film diatas 17 tahun karena memperlihatkan sisi ketelanjangan, namun melihat fakta dari penyakit ini.  Saya sangat berharap semua masyarakat dengan berbagai usia melihat film ini. Karena disini saya mencoba mengkomunikasikan kepada masyarakat agar mereka tahu tentang penyakit ini”, jelasnya.

Film ini dibintangi Kartika Jahja dan T. Rifnu Wikana, juga memaparkan sebuah solusi satu-satunya untuk bertahan dari penyakit ini. “Satu-satunya cara agar normal, dengan mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menstabilkan mood. Cukup berat karena seumur hidup harus mengkonsumsi obat”, katanya.

        

Berita Terkait

Komentar

  1. tika

    Gangguan bipolar adalah penyakit seumur hidup dan berulang, orang dengan gangguan kebutuhan perawatan jangka panjang untuk mempertahankan kontrol gejala bipolar. Perawatan yang efektif pengobatan termasuk obat dan psikoterapi untuk mencegah dan mengurangi keparahan kekambuhan gejala

  2. Usup Supriyadi

    baru tahu ada penyakit macam tuh..

  3. Arfin Rose

    ada soft copinya g?

  4. davit kenang

    saya se'org mahasiswa, pngidap bipolar,
    td mlm, saya sngt depresi, n mnyayat nadi saya, saya tidak mrasakan sakit, saya hanya diam. stlh it tmn2 saya dtng, n mmbw saya k rmh skt. lg2 gagal.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. wajib diisi yang bertanda *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125